Fakta Budaya SIngle yang Menjadi Tren di Jepang

Fakta Budaya SIngle yang Menjadi Tren di Jepang

Fakta Budaya SIngle yang Menjadi Tren di Jepang – Mungkin anda sudah pernah membaca artikel serupa atau sejenis,tapi artikel ini berbeda karena sudah kami ambil dari sumber terpercaya , berikut fakta budaya single yang baru-baru ini enjadi tren di Jepang.

Meski beberapa remaja Jepang pekerja keras dan masih aktif bersekolah, namun nyatanya masih banyak yang melajang hingga tua. Bahkan, ada dari mereka yang tak pernah merasakan berhubungan khusus dengan lawan jenis.
Di Jepang, ada sebuah budaya yang bernama ohitorisama atau budaya melajang. Hal itulah yang membuat kebanyakan anak muda di Jepang untuk melajang. Tentu, hal ini menimbulkan pertanyaan bagi masyarakat Jepang sehingga menurunnya daya manusia selama beberapa tahun ini.
Oleh karena itu, masyarakat Jepang harus berpikir, bagaimana agar daya manusia tidak menurun seiring berkembangnya zaman. Padahal, fasilitas negara yang mumpuni dan mewah pun telah tersedia di mana-mana. Tunjangan kehidupan yang serba mencukupi untuk keluarga yang kurang mampu juga selalu siap sedia melayani.
Buat kamu yang mungkin masih asing dengan istilah tersebut, berikut lima fakta ohitorisama yang diminati para anak muda di Jepang.

1. Menjadi sebuah tren baru yang berbeda dengan negara lain

Tak hanya negara lain saja yang memiliki anak muda melajang, namun di Jepang berbeda. Fasilitas dan tempat umum yang dapat digunakan untuk para single telah lama didirikan. Ini sebagai sarana, agar yang tidak memiliki pasangan dapat nyaman keluar rumah tanpa takut merasa tidak aman.
Dilansir dari Businesstimes, jika ohitorisama berada di dalam kerumunan masyarakat Jepang dan mendapat fasilitas bermacam-macam, mulai dari bioskop yang menawarkan tempat duduk dengan partisi hingga taman hiburan yang memungkinkan para single menikmati kesendiriannya.

2. Nyaman dengan kesendirian

Kenyamanan yang identik dengan diri sendiri membuat masyarakat Jepang, khususnya anak muda enggan memiliki pasangan. Ada banyak alasan yang dibuat, agar nyaman dengan kesendirian dan tak mengeluarkan biaya banyak untuk menikah.
Dikutip dari laman BBC, ada beberapa orang yang ingin menikmati kesendirian dan membangun komunitas baru disela-sela kesibukannya. Meski nyaman sendiri, masyarakat Jepang juga sering datang ke bar sendirian dan menikmatinya. Minuman keras yang mengalir memudahkan setiap orang berinteraksi dan saling sapa lalu menikmati bir yang disajikan hingga lupa waktu.

3. Menghindari tekanan hidup jika memiliki pasangan

Fenomena ini sempat menjadi perbincangan hangat di Jepang karena anak muda yang enggan memiliki pasangan dan keturunan. Salah satu penyebab umum ialah tingkat stres yang tinggi, jika tak dapat membahagiakan pasangan dan membuat keharmonisan dalam rumah tangga.
Hal ini menyebabkan banyak anak muda yang melajang dan menikmati hidupnya sendirian. Oleh karena itu, mereka ingin terhindar dari permasalahan hidup dengan pasangan yang akan menyita banyak waktu serta energi.

4. Menghindari stres yang berkepanjangan jika memiliki masalah finansial

Jika memiliki pasangan, berarti harus memiliki batasan dalam setiap tindakan, tapi itu tidak berlaku dalam masyarakat Jepang. Mereka dapat melakukan apapun yang mereka mau, tanpa harus tertuntut oleh beban rumah tangga.
Dikutip dari BBC, aktivitas minum dan kehidupan malam secara tradisiona di Jepang sering dilakukan, sehingga gerakan ohitorisama membawa dampak yang sangat besar bagi masayarakat Jepang, khususnya anak muda.

5. Bebas melakukan apa saja jika melajang

Hampir tak ada beban finansial jika melajang. Konsumen di Jepang, terutama anak muda lebih banyak menghabiskan waktu luangnya sendirian daripada bersama teman maupun keluarga. Tentunya, hal ini sangat disayangkan dan akan menurunkan komunikasi sosial secara perlahan.
Saat ini, masyarakat Jepang sedang mengalami perubahan demografis seismik. Ini berarti mereka sedang menghadapi penurunan tingkat pernikahan pada orang yang hidup sendiri.
Meski banyak lansia di di negara Jepang, masyarakat muda tetap menghormati budaya yang ada. Mereka hanya ingin tampil beda tanpa terbebani dengan masalah rumah tangga yang rumit dan identik dengan perceraian. Inilah yang menyebabkan, akhirnya mereka memilih untuk melajang dan hidup sendiri.