Tradisi Acara Makan Orang Indonesia

Tradisi Acara Makan Orang Indonesia

Tradisi Acara Makan Orang Indonesia – Berikutnya kami akan memberi artikel terpercaya yang sudah kami ringkas dan buat seringan mungkin, agar bisa dibaca oleh segala kalangan,berikut mengenai tradisi acara makan orang Indonesia.

INDONESIA meliputi Sabang hingga Merauke begitu kaya budaya, termasuk budaya makan yang memiliki makna filosofis, seperti berikut ini:

Rijsttafel
Merupakan cara penyajian makanan berurutan dengan pilihan hidangan dari berbagai daerah di Nusantara. Cara penyajian ini berkembang pada masa kolonial Belanda yang memadukan etiket dan tata cara perjamuan resmi Eropa dengan kebiasaan makan penduduk setempat yang mengonsumsi nasi. Cara penyajian ini dulu begitu populer di kalangan masyarakat Eropa-Indonesia, namun tetap digemari di Belanda dan dihidupkan lagi di Indonesia pada masa sekarang.

Konsep makan bersama ini seperti jamuan pesta yang meriah, sajiannya mewakili keanekaragaman suku bangsa di Nusantara. Aneka macam hidangan terkenal dari berbagai pulau seperti sate, tempe, dan serundeng. Dari Batavia dan Priangan, ada masakan favorit seperti gado-gado, lodeh dengan sambal, dan lalapan. Nasi dihidangkan bersama 40 hingga 60 jenis macam hidangan dalam piring kecil. Setelah perang kemerdekaan Indonesia 1945, risjttaffel ini dibawa ke Belanda oleh penjajah kolonial dan orang Indonesia yang kembali ke Belanda.

Liwetan atau Bancakan

Tradisi liwetan dilakukan dengan bersantap bersama di atas lembaran daun pisang. Dalam penyajiannya, nasi akan diletakkan di sepanjang daun pisang. Begitu juga dengan sayur-mayur dan lauknya. Hal yang membuat liwetan unik adalah makan dengan menggunakan tangan langsung atau tanpa sendok. Makna tradisi yang dimulai dari kebiasaan dan pengaruh agama Islam di pesantren-pesantren di Jawa dan Sunda ini adalah nilai kebersamaan dan kesederhanaan.

Filosofinya diambil dari tidak adanya perbedaan, semua makan di wadah yang sama, bersamasama. Di beberapa daerah, tradisi makan bersama seperti liwetan memiliki nama khusus, misalnya megibung di Bali yang merupakan kebiasaan warga Karangasem, di ujung timur Pulau Dewata. Megibung ini begitu lekat dengan tradisi masyarakat dalam upacara keagamaan adat pernikahan dan kegiatan sehari-hari.

Tumpeng

Sajian berupa nasi berbentuk kerucut beserta lauk pauk yang ditempatkan di atas tampah ini menjadi bagian penting dalam perayaan tradisional seperti kenduri atau perjamuan makan untuk peringatan peristiwa, juga menjadi wujud rasa syukur seperti pada perayaan ulang tahun dan melimpahnya hasil panen. Tumpeng berasal dari tradisi lama masyarakat Indonesia yang memuliakan gunung sebagai tempat suci dan sakral. Tumpeng menjadi warisan budaya Jawa yang diperkirakan ada sejak zaman penyebaran agama Hindu pada abad ke-15.

Dalam kenduri, syukuran atau selametan, setelah pembacaan doa, ada tradisi untuk memotong pucuk tumpeng dan diberikan kepada orang yang paling penting, paling dituakan di antara yang hadir. Nasi tumpeng yang biasanya berupa nasi kuning dilengkapi dengan berbagai lauk dan sayur. Jumlah hidangan adalah tujuh karena dalam bahasa Jawa “pitu” dikaitkan dengan kata “pitulungan”, memiliki makna pertolongan dari Tuhan. Lauk pauk yang biasa disajikan adalah perkedel, telur, variasi tempe kering, serundeng, ikan asin, juga dianjurkan ada lauk pauk dari hewan darat seperti ayam atau sapi, hewan laut rempeyek teri, ikan bandeng, dan sayur-mayur seperti kangkung, bayam atau kacang panjang.

Baca Juga:Kebudayaan Unik Korea Selatan

Bedulang

Bedulang di Kepulauan Bangka Belitung sudah turun-temurun dilakukan sebagai prosesi makan bersama dalam satu dulang yang terdiri dari empat orang duduk bersila saling berhadapan mengitari tempat yang berisikan makanan. Menggunakan dulang yang ditutup dengan tudung saji berwarna merah dan bermotif. Nah, di dalamnya biasanya berisi nasi, lauk-pauk khas Belitung, buah-buahan, dan juga aneka kue. Ada makna filosofi khusus pada budaya makan ini, para orang tua mengajarkan anak-anak yang masih muda tentang etika, kebersamaan, dan toleransi.

Hingga saat ini, bedulang masih kerap diselenggarakan oleh masyarakat, tapi bagi turis yang menyambangi Belitung dapat merasakan sensasi makan dengan bedulang . Ada etika khusus dalam bedulang ini, yaitu saat makan, anggota keluarga yang paling muda mengambilkan piring untuk anggota keluarga yang lebih tua, selain usia, faktor status sosial pun menjadi patokan. Anggota keluarga yang lebih muda juga bertugas mengambil lauk untuk anggota keluarga yang lebih tua. Anggota keluarga yang lebih tua diberi urutan lebih awal bergiliran hingga yang paling muda.

Tradisi Unik di Indonesia

Tradisi Unik di Indonesia

Tradisi Unik di Indonesia – Berikut ini merupakan artikel yang membahas tentang tradisi-tradisi unik dan aneh yang hanya dilakukan di Indonesia yang sudah dirangkum dari sumber terpercaya.

Indonesia terdiri dari berbagai macam suku yang masing-masing memiliki budaya dan tradisi berbeda-beda. Beberapa tradisi merupakan warisan dari nenek moyang yang sudah dilakukan sejak dahulu kala dan tentunya mengandung unsur-unsur aneh menggelitik nan sulit dipercaya nalar.

Dari sekian banyak tradisi di Indonesia, ada beberapa di antaranya yang terlihat unik bahkan terkesan ekstrem yang membuat bergidik ngeri. Berikut delapan tradisi unik di Indonesia, mulai dari menggoreng telur di atas perut hingga mengantarkan roh leluhur.

 

1. Debus, Banten

Tradisi Debus merupakan tradisi yang terkenal di daerah Banten, Jawa Barat. Debus sering menjadi ajang pertunjukan bagi masyarakat di Banten. Tradisi ini terbilang ekstrem karena aksi yang melukai diri sendiri.
Seni tradisional debus dilakukan melalui berbagai macam atraksi, seperti memecahkan buah kelapa dengan cara dibenturkan ke kepala sendiri, menggoreng telur dan kerupuk di atas kepala, menyayat tubuh dengan senjata tajam, hingga membakar tubuh dengan minyak tanah.
Selain itu, kesenian debus dikenal sebagai tradisi yang mengandung unsur mistis dan syarat dengan ajaran spiritual agama. Hal itu tercermin pada saat sebelum permainan dilakukan, terlebih dahulu dimulai dengan berbagai ritual atau doa, dengan maksud meminta perlindungan dan keselamatan kepada Allāh SWT.

Dalam sejarahnya, tradisi debus tidak bisa dipisahkan dengan ilmu tarekat yang berkembang di Banten, karena tradisi ini ditengarai bersumber dari ajaran beberapa tarekat. Sultan Hasanudin sebagai orang yang pertama kali memperkenalkan kesenian ini adalah penganut ajaran Tarikat al-Rifa’iyah, sebagaimana juga dianut oleh mayoritas para penyebar agama Islam di Banten.
Dalam perkembangannya, debus sebagai suatu kesenian tradisional khas Banten menjadi tradisi kesenian keagamaan yang begitu pesat, dan banyak dimainkan oleh masyarakat Banten, bahkan hingga sekarang ini. Di samping itu, tradisi debus dikenal tidak hanya di Provinsi Banten semata, melainkan juga dikenal di banyak daerah di Indonesia.

 

2. Ma’Nene, Tana Toraja

Tana Toraja, Sulawesi Selatan merupakan salah satu destinasi yang bisa kamu kunjungi untuk melihat keberagaman budaya Indonesia. Salah satu tradisi yang paling unik di Tana Toraja adalah Ma’Nene.
Ritual unik dan misterius ini merupakan kegiatan membersihkan jasad para leluhur yang sudah meninggal dunia ratusan tahun lalu. Walaupun saat ini ritual tersebut sudah jarang dilakukan, beberapa daerah seperti Desa Pangala dan Baruppu masih rutin melaksanakan ritual tersebut setiap tahunnya.

Upacara ritual yang dilaksanakan setiap bulan Agustus ini diartikan sebagai penguasa kekerabatan di antara mereka. Bahkan, ritual Ma’Nene sudah menjadi aturan standar tak tertulis yang selalu dipatuhi oleh setiap warga negara.

Selanjutnya, setelah dikeluarkan dari kuburan, jasad tersebut dibersihkan. Lalu, pakaian yang digunakan jasad tersebut digantikan dengan menggunakan kain atau pakaian baru. Setelah pakaian baru terpasang, jasad dibungkus dan dimasukkan kembali ke Patane.
Ritual Ma’Nene tidak hanya sekadar ritual memandikan jasad dan memakaikan pakaian baru. Ritual ini memiliki makna lebih, yakni mencerminkan betapa pentingnya hubungan antar-anggota keluarga bagi masyarakat Toraja, terlebih bagi sanak saudara yang telah terlebih dahulu meninggal dunia.

 

Baca Juga: Tradisi Cincin Leher Suku Kayan di Myanmar

 

3. Iki Palek, Papua Barat

Masyarakat papua nugini yang memotong jarinya untuk menjalani tradisi Iki Palek Foto: Shutter Stock
Suku yang bermukim di Lembah Baliem, Papua ini memiliki cara yang ekstrem untuk mengekspresikan bukti cinta kepada kerabat atau keluarga yang meninggal. Mereka memotong satu ruas jarinya sebagai bentuk kesetiaan terhadap orang terdekatnya yang meninggal.

Pemotongan jari juga diartikan sebagai rasa sakit yang luar biasa. Tradisi ini disebut dengan Ritual Iki Palek. Mereka pun sadar jika ritual ini sangat menyakitkan. Namun, mereka rela melakukan apa saja demi bukti cinta terhadap pasangan.
Iki Palek dilakukan oleh wanita saja. Jadi, ketika kerabat dekat, suami atau anak meninggal, maka jari mereka akan dipotong. Jangan heran jika melihat jari ibu-ibu di sini banyak yang terputus. Hal ini menandakan jika banyak kerabat dekat yang telah meninggal.
Untuk memotong ruas jari, mereka menggunakan kapak atau pisau tradisional. Bahkan tak jarang mereka menggigit jari mereka sendiri hingga terputus. Bagi Suku Dani, jari diartikan sebagai simbol kerukunan, kesatuan, dan kekuatan dalam diri manusia maupun keluarga.